Jumat, 11 Juli 2025

Prodi S1 Gizi UMHT



Gizi (S1)
Program Studi Gizi di Universitas MH Thamrin adalah salah satu program studi yang ada di bawah Fakultas Kesehatan. Program studi ini bertujuan untuk menghasilkan tenaga ahli di bidang gizi yang kompeten dan profesional. Mahasiswa yang mengikuti program studi ini akan mendapatkan pengetahuan dan keterampilan dalam bidang gizi klinik, gizi masyarakat, dan manajemen pelayanan gizi.

VISI
  • Menjadi Program Studi yang menghasilkan lulusan sarjana gizi professional dankompetitif ditingkat nasional maupun internasional berlandaskan ilmupengetahuan dan teknologi terkini, unggul dalam promotif dan inovatif sertaberjiwa kewirausahaan pada Tahun 2035

MISI
  • Melaksanakan pendidikan sarjana gizi dan menghaslkan lulusan yang professional, unggul dalam promotif dan inovatif di bidang gizi baik produk, jasa, sosio dan teknologi berlandaskan kurikulum berbasis kompetensi.
  • Menyelenggarakan penelitian dan pengabdian masyarakat yang berkualitas, promotif dan inovatif berbasis teknologi tepat guna untuk meningkatkan perbaikan gizi masyarakat
  • Mengembangkan suasana akademik dalam melakukan penelitian dan pengabdian masyarakat yang berorientasi pada promotif dan inovatif
  • Membangun kemitraan dan jejaring dengan lembaga terkait di tingkat nasional dan internasional
KEUNGGULAN PROGRAM STUDI GIZI (S1)
  • Kurikulum Berbasis Kompetensi
  • Fasilitas dan Laboratorium Modern
  • Tenaga Pengajar Berpengalaman
  • Fokus pada Kewirausahaan
  • Kerjasama dengan Berbagai Institusi
KONSENTRASI PROGRAM STUDI GIZI (S1)
  • Dietetik
  • Gizi Masyarakat
  • Manajemen Industri Jasa Pangan
  • Teknologi Pangan
  • Perencanaan Program Gizi

(sumber : S1 GIZI UMHT)

Prodi Gizi

 

Jurusan Ilmu Gizi adalah bidang ilmu yang mempelajari pentingnya nutrisi pada kehidupan manusia, terutama hubungan antara asupan makanan dengan kesehatan. Hal lain yang juga akan dipelajari meliputi pemahaman tetang pola makan sehat, gaya hidup, hingga cara memproses makanan. Di jurusan ini mahasiswa akan mempelajari zat gizi apa saja yang dibutuhkan dan bagaimana takaran idealnya sesuai dengan ilmu pengetahuan.

Seperti kita ketahui, masalah kekurangan gizi masih belum mampu dituntaskan. Di samping itu, masalah kesehatan akibat kelebihan gizi seperti diabetes dan obesitas juga meningkat. Di tambah lagi, pertumbuhan yang sangat pesat di sektor industri pangan turut mendorong tingginya kebutuhan akan ahli gizi yang profesional

Pengetahuan dan Keahlian
  • Kemampuan komunikasi
  • Kemampuan melakukan analisis
  • Kemampuan meneliti
  • Kemampuan berpikir rasional dan terstruktur
  • Kemampuan problem solving
  • Kemampuan bekerja secara tim
  • Keterampilan interpersonal

Prospek Kerja

Bagaimana prospek kerja Jurusan Ilmu Gizi? Tidak usah khawatir, karena Sarjana Gizi memiliki prospek kerja sebagai konsultan gizi baik di klinik, rumah sakit, dan puskesmas. Selain itu, kamu juga bisa bekerja di berbagai bidang, mulai dari menjadi staf penjamin mutu di industri makanan dan minuman, menjadi perencana menu dan gizi di pusat pelayanan kesehatan, peneliti di lembaga penelitian gizi dan kesehatan, menjadi akademisi, maupun menjadi pengusaha. Jenis dan jenjang kariernya juga cukup bervariasi.

Gaji awal yang ditawarkan tergolong sangat kompetitif dengan memperhatikan aspek kemampuan dan pengalaman yang dimiliki, area tempat bekerja, dan posisi pekerjaan. Lulusan dari Prodi Ilmu Gizi juga bisa mengembangkan potensi di sektor lain yang membutuhkan berbagai disiplin ilmu.

(sumber : Prodi Gizi)

Hubungan status gizi dan anemia

 


Kejadian Anemia
Anemia  adalah  suatu  kondisi  dimana  jumlah  dan  ukuran  sel  darah  merah,  atau konsentrasi   Hb di bawah   batas   normal   yang   ditetapkan,   sehingga   mengakibatkan terganggunya kapasitas darah untuk mengangkut oksigen di sekitar tubuh (WHO, 2017). Data yang tertulis dalam tabel 4.2 menunjukkan dari 127 orang responden, ada 13 orang diantaranya  mengalami  anemia  (10,2%)  dan  selebihnya  yaitu  114  orang  (89,8%)  tidak mengalami anemia. Prevalensi anemia pada remaja putri MTsN Barito Utara yang hanya 10,0 %, menurut De Benoist (2008) termasuk dalam masalah kesehatan masyarakat tingkat ringan  artinya  prevalensi  ini  belum  mencapai  atau  melampaui  batas  kategori  sebagai masalah. 

Hal   ini sejalan   dengan   ketetapan   yang   dibuat   oleh   Kemenkes   (2013)   yang mengkategorikan anemia menjadi sebuah masalah bila prevalensinya mencapai ≥20,0%. Situasi ini merupakan sebuah hal yang cukup baik melihat prevalensi yang tidak anemia jauh  lebih  banyakdibandingkan  dengan  yang  anemia.  Peneliti  menemukan  bahwa penyebab  responden  mengalami  anemia  salah  satunya  adalah  mengalami  menstruasi setiap  bulannya  namun  lebih  banyak  dikarenakan  pola  diet  yang  keliru,  dan  kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji.

Kebiasaan Sarapan
Dari  hasil  jawaban  127  responden  berdasarkan  kuesioner  yang  telah  dibagikan menunjukkan  bahwa  lebih  banyak  siswi  yang  biasa  melakukan  sarapan  yakni  sebanyak 123 orang (96,8%) dan hanya 4 orang yang tidak biasa melakukan sarapan (3,2%). Keadaan ini  dapat  dikatakan  sangat  baik  karena  dengan  adanya sarapan  dapat  membekali  tubuh dengan  zat  gizi  yang  diperlukan  untuk  berfikir,  bekerja,  dan  melakukan  aktifitas  fisik secara optimal setelah bangun pagi. Bagi anak sekolah sarapan yang cukup terbukti dapat meningkatkan konsentrasi belajar dan stamina.

Hubungan Status Gizi dengan Kejadian Anemia
Responden yang diteliti berjumlah 127 orang. didapatkan 13 orang (10,2%) responden mengalami  anemia,  sedangkan  114  responden  (89,8%)  lainnya  tidak  mengalami  anemia. Berdasarkan  hasil  penelitian  diketahui  bahwa  responden  yang  anemia  masuk  dalam kategori IMTyang berbeda-beda sesuai dalam tabel 4.5. 10 orang siswi (76,9%) diantaranya tergolong ke dalam IMT kurus, sedangkan 2 orang (15,4%) memiliki IMT normal, dan ada 1 orang siswi yang mengalami anemia dari IMT gemuk (7,7%).

Karies Gigi

 


Kesehatan gigi dan mulut merupakan gambaran dari kesehatan secara umum. Untuk itu kesehatannya perlu dijaga, agar kesehatan tubuh pun bisa terjaga. Pada anak, khususnya, kesehatan gigi memerlukan perhatian lebih. Sebab anak cenderung belum mampu menjaga kebersihan, bahkan kesehatan, rongga mulut dengan maksimal.

Salah satu masalah pada rongga mulut yang sering dialami anak adalah karies. Di Indonesia, kasus karies gigi pada anak tergolong tinggi, dengan perkiraan sekitar 76% anak mengalami kondisi ini.

Meski awalnya hanya terjadi pada lapisan luar gigi, karies yang diabaikan bisa berkembang menjadi kerusakan pada lapisan yang lebih dalam, bahkan abses gigi. Oleh karena itu, bawa anak ke dokter gigi ketika mengalami gejala karies atau lebih baik lagi, pastikan kesehatan gigi anak tetap terjaga dengan melakukan kontrol rutin ke dokter gigi anak.

Apa itu Karies Gigi pada Anak?

Karies gigi pada anak adalah kerusakan pada permukaan gigi anak. Kondisi merupakan tahapan awal dari gigi berlubang. Terjadinya karies disebabkan oleh zat asam yang dihasilkan oleh bakteri ketika memfermentasi sisa makanan dan minuman yang mengandung gula atau karbohidrat. Zat asam tersebut akan mengikis mineral pada lapisan email gigi secara perlahan, sehingga membentuk lubang kecil yang disebut karies.


Jika tidak segera ditangani, kerusakan ini dapat menyebar lebih dalam hingga mencapai lapisan dentin, bahkan pulpa gigi, yang bisa menyebabkan sakit gigi, bahkan infeksi. Oleh karena itu, menjaga kebersihan gigi anak dan membatasi asupan makanan manis sangat penting untuk mencegah terjadinya karies.


Gejala Karies Gigi pada Anak

Gejala karies gigi pada anak bervariasi, tergantung pada tingkat keparahannya. Namun, beberapa gejala karies yang banyak dikeluhkan anak, meliputi:

  • Munculnya bintik-bintik atau noda putih pada gigi yang lama kelamaan akan berubah menjadi cokelat muda atau tua
  • Gigi sakit atau ngilu, terutama saat mengonsumsi makanan atau minuman manis, panas, maupun dingin
  • Terlihat adanya lubang atau rongga kecil pada permukaan gigi
  • Gigi sakit saat menggigit atau mengunyah makanan

Penyebab Karies Gigi pada Anak

Penyebab karies gigi pada anak adalah adanya penumpukan plak di gigi. Kondisi ini terjadi ketika sisa makanan, khususnya makanan yang mengandung gula dan pati menempel di gigi dan tidak dibersihkan dengan baik, sehingga bakteri mengubahnya menjadi asam. 


Zat asam yang diproduksi bakteri ini dapat mengikis lapisan mineral enamel gigi. Efeknya, karies gigi pada anak pun terbentuk. Karies gigi pada anak bisa menyebabkan terbentuknya lubang besar pada gigi jika tidak ditangani dengan baik. 


Faktor Risiko Karies Gigi pada Anak

Beberapa faktor bisa menyebabkan karies gigi pada anak terbentuk, seperti:

  • Gemar mengonsumsi makanan manis atau yang mengandung pati
  • Kebersihan gigi yang buruk atau malas menyikat gigi
  • Mulut kering atau kurang minum air putih yang cukup
  • Tidak menggunakan pasta gigi yang mengandung fluoride saat menyikat gigi
  • Kebiasaan minum susu menggunakan botol sebelum tidur

Prodi S1 Gizi UMHT

Gizi (S1) Program Studi Gizi di Universitas MH Thamrin adalah salah satu program studi yang ada di bawah Fakultas Kesehatan. Program studi i...